Go, Suooo!

Rabu 3 Agustus minggu lalu, saya (akhirnya) mengunjungi Surabaya, kota kelahiran dan kota di mana saya tumbuh besar.

Setelah beberapa kali gagal mendatangi acara penting teman dan beberapa acara gereja, kali ini saya tidak mau melewatkan acara spesial saudari saya. Ya, adik saya, Angellina Handoko, akan diwisuda! 🙂 Ah, saya jadi ingat, terakhir kalinya saya ke Surabaya adalah acara wisuda sahabat saya, Elkana Lewerissa, tanggal 7 Agustus 2010. Artinya, setahun sudah berlalu. Aahh, betapa saya kangen Surabaya.

Saya selalu percaya nggak ada yang kebetulan di dunia. Segala sesuatu memang sudah diatur Sang Pencipta. Begitu pun jadwal kunjungan saya ke Surabaya. Awalnya saya berencana berangkat hari Jumat 5 Agustus. Mama ditemani adikku yang paling kecil, Jessica, berangkat lebih dulu. Setelah ditunda-tunda beberapa hari, tiba-tiba saja harga tiket Jakarta-Surabaya-Jakarta menjadi IDR 400.000. Segera saya membeli tiket untuk Mama dan Jessica. Saya sendiri entah kenapa memutuskan menunda membeli tiket. Tiga minggu menjelang hari H, Jessica baru tahu kalau masa orientasi penerimaan mahasiswa baru di Atmajaya berlangsung awal Agustus. Artinya, dia tidak bisa ikut ke Surabaya, maka tiket pun jatuh ke tangan saya.

Mungkin Tuhan memang berkenan atas liburan singkat saya.

KOMSEL GATHERING

Lagi-lagi, memang tak ada yang kebetulan. Ketika akhirnya saya resmi mendapat ijin cuti untuk 4 hari, saya diberitahu tentang rencana surprise and farewell party untuk seorang teman baik di Surabaya. Teman saya itu akan ditugaskan ke Manado. Acaranya akan diadakan tepat hari Rabu. Saya girang bukan kepalang waktu tahu saya bisa ikut meramaikan. Saya sudah lama sekali ingin kumpul-kumpul lagi bersama MY ROCK. Saya kangen berat. Fyi, MY ROCK adalah komunitas anak muda gereja ROCK Surabaya, dan saya bertumbuh dalam komunitas ini. Saya CINTA komunitas MY ROCK.

Karena satu dan lain hal, informasi acara ini tersebar luas, termasuk ke Hizkia alias yang bersangkutan. Surprise gagal bahkan sebelum dimulai. Rencana kedatangan saya pun menjadi pelipur lara, minimal kejutan kecil untuk Hizkia. Hasilnya? Cukup berhasil. Hizkia tertawa histeris berkepanjangan ketika melihat saya, disusul kekagetan teman-teman lain juga. Hehe.. :’)

Hari itu, masing-masing dari kami menulis testimonial untuk Hizkia, hanya di setengah lembar kertas ukuran A4. Bagaimana mungkin saya dapat mengungkapkan semua? Itulah inspirasi tulisan ini.

HIZKIA SETIAWAN

Hizkia itu nama satu Raja yang agung di Alkitab loh. Semoga Hizkia yang ini juga seperti raja itu. ~Bedjo Lie, Kelas Filsafat Agama, 2005

Itulah komentar pertama yang saya ingat, dari seseorang tentang Hizkia. Reaksi kelas sejenak tertawa terkekeh riuh rendah, termasuk saya. Mungkin yang lain sama seperti saya, tak bisa membayangkan Raja Hizkia sekonyol dan seheboh Hizkia yang ini.

Ingatan pertama saya tentang kekonyolan Hizkia adalah pada saat masa orientasi mahasiswa baru angkatan 2005, atau lebih dikenal dengan P3K Maba 2005. Di sesi talent show jurusan Ilmu Komunikasi. Kalau ditanya, saya sendiri tidak dapat menjelaskan dengan detail dan tepat. Namun yang jelas, saya masih memiliki gambaran bayang-bayang gerakan dan tingkah laku Hizkia hari itu. Duduk di barisan mahasiswa baru, saya terbahak melihat kegilaan talent show mahasiswa baru Jurusan Ilmu Komunikasi, dan Hizkia satu di antaranya. Menyanyi, menari, parodi.

Benar, bersama beberapa teman pria di Jurusan Ilmu Komunikasi yang terbilang sedikit, Hizkia selalu menjadi penghibur suasana dan pelipur lara. Mereka membawa keceriaan bagi kami seangkatan. Saya masih ingat, bagaimana kami sering nongkrong di Kolam Jodoh tak henti-henti bercanda dan menyanyi.

Saya juga masih ingat betapa teman-teman mengasihi Hizkia. Buktinya? Saat ulang tahunnya, teman-teman itu memberi surprise Handphone, untuk menggantikan HP Hizkia yang rusak. Memang, bukan HP yang sangat mahal, tetapi saya tidak bisa mengingat teman lain yang diberi hadiah yang sama besarnya. *atau mungkin saya yang tidak tahu 😀* Intinya, Hizkia dikasihi. 🙂

SAINT PASTI GAUL

Seiring berjalannya waktu, Hizkia lebih banyak menghabiskan waktu pelayanan di gereja dibandingkan pelayanan kampus, sementara saya lebih banyak di kampus. Bahkan setelah saya ngekos dan beribadah di gereja GBI ROCK, tempat Hizkia bergereja dan pelayanan, saya tetap jarang bertemu dengannya.

Bagi saya pribadi, Hizkia adalah satu dari sedikit orang yang peduli terhadap pertumbuhan kerohanian saya. Entah sudah berapa puluh kali, Hizkia mengajak saya datang ke ibadah pemuda MY ROCK, atau paling tidak ikut kelompok sel setiap Rabu, dan entah berapa puluh kali juga saya menolaknya. Dan jujur, sekarang penolakan-penolakan saya itu menjadi satu keputusan yang saya sesali.

Setelah 2 tahun saya menghindar, akhirnya saya datang juga, sekedar untuk menghentikan Hizkia mengundang saya lagi, saya cukup sungkan menolak terus. Bukannya saya tidak pernah datang sama sekali, pernah satu dua kali tapi kesan saya tidak terlalu baik. Saya merasa terkucil tidak kenal siapapun, jadi buat apa saya datang lagi, begitu pikir saya. Tapi ternyata setelah kunjungan karena sungkan itu, saya ketagihan. :p

Saya juga akhirnya ikut komunitas sel, di bawah bimbingan Hizkia sebagai Gembala Komsel. Ya, teman saya yang konyol dan gokil, jadi gembala saya! Namanya Komsel SPG – Saint Pasti Gaul, maksudnya sebagai anak Tuhan, kita harus hidup kudus, tapi nggak kuper, tetap harus gaul dalam kehidupan, tapi yah tetap kudus. 🙂 Baru sejak itulah, saya sering sharing dan diskusi dengan Hizkia, bahkan smepat terlibat pelayanan kampus bersama lagi, di Camp Astor 2009.

Bagi hampir seluruh anak MY ROCK, Hizkia adalah sosok Bapa, cuman konyol gokil dan gila. Bagi saya, Hizkia itu saudara, kakak. Saya belajar banyak dari Hizkia, bukan sekedar ajarannya tapi saya lihat hidupnya. Hizkia memberi teladan dan tuntunan. Dia mendoakan saya di masa senang dan masa sulit, entah itu sebelum sidang kolokium ataupun saat saya patah hati.

Be Strong Sist! You are warrior princess. Immanuel!

Walaupun konyol tingkat dewa, Hizkia itu supportive, sangat perhatian, rela berkorban. Kalau dia bisa bantu, dia akan bantu. Walaupun keras kepala, Hizkia itu mau belajar dan tidak mudah menyerah. Jatuh bangun di pendidikannya, contohnya. Lulus kuliah di usia 26 tahun, tentu bukan perjuangan yang ringan.Yang jelas, saya respek padanya.

Saya tidak bilang Hizkia sempurna. Bisa dibilang, dia alumni berandalan saat masa remajanya, emosinya mudah meledak, ceroboh tingkat tinggi, kadang tidak pikir panjang dan egonya cukup tinggi. Tapi ya itu, Hizkia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mau belajar rendah hati untuk berubah dan mau taat.

Yang saya kagum, dia selalu mau belajar dari segala hal, walaupun dia sudah pernah tahu. Belum lagi, keterbukaannya dan kepeduliannya untuk berbagi dan memberi kasih. Saya juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk memberitahu bahwa Hizkia hobi memberi pujian untuk kekasihnya di depan umum. Bukan kemesraan yang eksklusif, tapi apresiasi dan kasihnya buat sang pujaan hati, yang sering dipanggil Susi Similikiti. (Lihat kegokilannya?)

Saya rasa, teman-teman saya di MY ROCK setuju kalau saya bilang Hizkia pemimpin, gembala, kakak, dan partner yang baik. Dan saya yakin, tidak berlebihan kalau saya bilang dia anak yang baik. Sering, Hizkia mengingatkan kami untuk tunduk pada otoritas, untuk punya spirit sonship. Berikut kata-kata trademark Hizkia:

Orang akan memegang jubahmu dan berkata, “Aku akan menyembah Allah yang Kau sembah.”

Tetap sehat, tetap semangat, supaya jalan-jalan dan cari jiwa buat Tuhan Yesus. Pokoke makjos!

My Rock, Suo!!

Dan ini rangkuman pepatahnya, yang akan selalu saya ingat:

Jangan hangat di luar tapi dingin di dalam. Maksudnya, kita baik dengan orang lain, tapi dingin dengan keluarga sendiri.

Misuh  itu masalahnya bukan hanya di kata kotornya, tapi lebih ke emosi/kemarahan yang tersalurkan dari kata itu.  Kata jangkrik itu kan hanya binatang, kalau marah ngomongnya “kucing kamu / dasar ubur-ubur“, itu yah sama aja dengan mengumpat.

Sekarang, saya yakin dan percaya, Hizkia akan memberi dampak yang sama besarnya, bahkan lebih, di tempat barunya di Manado. Teman-teman di Surabaya, tentu akan merindukannya, tapi bagi saya perpisahan untuk mengejar destiny adalah perpisahan yang manis. We only part to meet again.

Inilah, yang saya ingat tentang Hizkia.

Dear Hizkia, know that we love you and will always support you in our prayer. You’ve been a very great brother and leader for us, for me. I am more than blessed to know you and having you in my hardest time. Have fun and fly towards destiny, Bro! Keep be real ROCK! Won’t say goodbye, just till we meet again! 🙂

Hizkia Setiawan, Photo by Immanuel Niko Hadinata

Photo by many, Edit by me

PS: Video sepatah kata dari Hizkia Setiawan, bisa dilihat di SINI, thanks to Rendy Kurniawan.

© Jak – 130811 – 2200 ©

Advertisements

Leave Comment (s) :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s