[story] Tak’kan Bosan Lagi

Bosan.

Seiring hela nafas, kata itu meluncur dari lidahku, untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Lagi-lagi, aku di sini. Di balik meja kayu berwarna coklat, dengan harum kayu manis segar menguar darinya. Di permukaan meja, tampak jelas garis-garis usia pohon asal kayu meja ini, sangat manis bersanding dengan hiasan meja dan pot bunga kecil di atasnya. Sisi meja dihiasi jalinan untaian kerang, memberi warna laut yang menenangkan. Cantik sekali. Pun begitu, tetap tak dapat mengusir bosanku.

Satu hela nafas terdengar lagi dariku. Kuangkat kepala dan kubawa punggungku bersandar. Sapuan pandangan ke ruang hangat ini tak membantu.

Credit: homedesigndecorating.com

Kulihat sekeliling sekali lagi, lalu menerawang jauh melewati jendela kaca berbingkai kayu. Percuma, tetap saja tak akan ada pengunjung datang ke losmen ini. Mungkin malah tak ada yang ke pantai ini.

Ah, mungkin hari ini beda. Dari kejauhan, tampak siluet yang bergerak mendekat. Aku berdiri dan bersiap menyambut tamu, sebelum akhirnya kecewa karena itu siluet atasanku, bersama tamunya. Aku duduk lagi dan mengamati.

Sang tamu masuk, lalu berhenti. Aku tak bisa menebak umurnya, mungkin sekitar akhir 30. Walau gayanya masih muda, garis garis halus sudah terlihat di wajahnya yang maskulin. Rambutnya pendek rapi dan kulitnya coklat terbakar matahari. Kemeja dan jeans biru berduet dengan cantik, menempel pas di tubuh bidangnya. Mungkin dia rajin berolahraga. Raut wajahnya serius seolah sedang berpikir tapi ia tersenyum santai. Secara keseluruhan ia tidak tampan, tapi pesonanya menarik. Aku tak dapat berhenti memandangnya. Tiba-tiba aku menyesali mengapa aku berantakan siang ini.

Percakapannya dengan atasanku masih belum berhenti sejak dari luar tadi. Sesekali tamu ini melirikku. Ah, atau hanya perasaanku saja. Mungkin juga benar, karena ia melirik lagi dan lagi. Kadang diselingi senyum manis. Aku jadi salah tingkah sendiri.

“Jadi, kamu mau tinggal di losmen ini selama kau di pulau ini? Bisa lama sekali loh, mengingat perkiraan selesainya proyekmu itu 5 tahun”, kudengar atasanku bicara.
“Ya. Kau keberatan?”, tanya sang tamu.

Ah, suaranya berat dan berwibawa. Di luar sadarku, aku gugup.

“Ah, tentu tidak. Tapi pulau ini tak ramai, apalagi bagian losmenku ini, sangat sepi. Aku saja tak datang kemari kalau bukan menemani kau.”, jawab atasanku disusul tawa. “Apa kau yang orang kota, bisa betah di tempat sepi begini sendirian?”, lanjutnya.

Di luar dugaan, sang tamu tersenyum. Sambil memandangku lama, ia menjawab “Tenanglah sobat. Aku sudah melihat dan memilih. Aku akan merasa nikmat di sini. Aku justru suka kalau tak ada orang lain mengganggu.”

Aku tersadar. Mungkin setelah ini, aku tak akan bosan lagi.

© Jak – 060711 – 2359 ©

Advertisements

Leave Comment (s) :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s