The Sorcerer’s Apprentice

Courtesy: blog.80millionmoviesfree.com

Alkisah, tokoh utama Dave pada masa kecilnya bertemu dengan dua penyihir. Dia dikejar dalam sebuah toko barang antik. Dia bisa bebas dari tengah pertempuran dan melapor pada gurunya, tapi saat guru memeriksa toko, tidak ada tanda bekas keributan. Malangnya, Dave terlanjur ngompol di celana karena terlalu takut dikejar.

Bayangkan nasib Dave kecil. Di usia 10 tahun, dianggap sebagai pembohong dan pembual.  Ia ditertawakan teman-teman sekelas karena ngompol di celana bahkan di depan gadis idamannya.

Bayangkan Dave masuk sekolah esok harinya dan tetap ditertawakan dan diejek. Mungkin sampai berhari-hari dan berminggu kemudian. Diceritakan bahwa Dave pindah sekolah, kita asumsikan tentu ejekan teman-temannya tergolong parah.

Dave mengalami perang dalam dirinya. Melihat dan merasa berada dalam pertempuran sihir namun ternyata tidak ada bukti nyata. Ia mulai meragukan apa yang ia lihat. Kejadian itu mempengaruhi kepribadian Dave. Disebutkan juga bahwa Dave harus menemui beberapa psikiater. Dia dianggap kurang waras dan memiliki gangguan mental.

10 tahun kemudian. Dave bertemu lagi dengan penyihir dari masa kecilnya. Pertemuan pertama, dia hampir digigit serigala. Lalu, ia hampir ditabrak kereta. Kemudian ia terbang di atas elang besi. Belum cukup mengejutkan Dave, si penyihir (Balthazar) malah meminta bantuan Dave untuk menyelamatkan dunia.

LET US LEARN SOMETHING

Menurutku, bagi Dave, Balthazar adalah bagian masa lalu yang pahit dan tidak menyenangkan.

Balthazar yang menyebabkan dia ditertawakan, diejek, dijauhi dan dikucilkan. Balthazar yang membuat orang meragukan kewarasannya dan dianggap pembual. Balthazar yang membuat dia harus melewati hari-hari di psikiater, 10 tahun dianggap sebagai nerd.

Bayangkan Balthazar adalah bagian masa lalu kita yang paling mempengaruhi kita. Entah mungkin patah hati yang amat dalam, entah keluarga, entah penghinaan teman, entah belitan masalah ekonomi, entah hantaman masalah kesehatan, mungkin kesalahan yang kita lakukan, mungkin sakit hati yang disebabkan oleh orang lain, apapun.

Courtesy: flickr.com

Apakah kita bersikap seperti Dave?

Apakah kita berdamai dengan masa lalu kita?

Apakah kita memaafkan orang yang menyakiti kita atau bahkan diri kita sendiri?

Apakah kita menghadapi ketakutan masa lalu kita?

Apakah kita melepaskan hal-hal di masa lalu kita yang tak bisa kita lepaskan?

Kalau belum, let it go.

Walaupun awalnya kaget dan lari, tapi Dave memutuskan MENGHADAPI semuanya. Dia belajar. Dia bersusah. Dia mengambil keputusan.

Mari ambil keputusan menghadapi masa lalu kita. Bukan terjebak dalam penyesalan atau kemarahan, tapi melihatnya sebagai proses belajar.

Salah satu ciri kedewasaan adalah mampu menghadapi masa lalu, mengatasi masa sekarang, dan merencanakan masa depan, dengan tuntunan Tuhan.

© Jak – 030810 – 2104 ©

Advertisements

2 thoughts on “The Sorcerer’s Apprentice

  1. hmm.. aku juga pernah nulis ttg let it go. Tuhan ciptain dan taruh dua mata ini di bagian depan dari kepala kita bukan di belakang supaya kita bisa terus liat ke depan. Keep movin forward 🙂
    So do you Couz! Keep movin forward 🙂

    Sure dear! Kayaknya dulu banget pernah nulis ttg itu juga aku, tapi lupa n males nyari di mana, haha.. 🙂

Leave Comment (s) :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s